Minggu, 28 April 2013

Refleksi Elegi Ritual Ikhlas 44: Kyai Mursidin 2

Terkadang nafsu dunia membuat kita lupa padakehidupan di akhirat kelak yang sudah menanti kita. Kita jadi terlena dengan gemerlapnya dunia. bersyukur identik dengan mendapatkan rizki berupa harta, namun sebenarnya nikmat nafas, nikmat sehat itulah hal yang paling peting dan hal inilah yang paling sering kita lupakan sehingga terkadang kita lupa untuk bersyukur pada Allah subhanahu wata'ala.
semoga kita selalu diridoi Allah aamiin

Rabu, 24 April 2013

Refleksi Elegi Bagaimana Matematikawan Mengusir Setan?


dari artikel di atas, saya mendapatkan pemahaman baru ternyata matematika dapat diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari. dalam hidup juga tak selamanya mulus, hidup ini selalu ada saja godaan dan cobaan yang menerpa memang benar istilah semakin tinggi pohon angin yang bertiup akan semakin kencang. kita harus tawakal, ikhtiar dan harus selalu ngat kepada Allah S.W.T, agar kita tidak terjerumus ke hal-hal yang negatif.


Refleksi Elegi Pemberontakan Para Mitos
           
Setelah membaca artikel tersebut, saya mendapatkan tambahan ilmu. bahwa tidak selamanya mitos itu bersifat negatif. seperti yang sudah dicontohkan dalam kehidupan beragama pun hakikatnya adalah mitos. hakikatnya mitos itu adalah tidak memahami apa yang ada dan mungkin ada. seorang anak kecilpun sebenarnya belajar melalui mitos karena anak tersebut belum bisa membuktikan apa yang dia pelajari. anak tersebut hanya meyakini dari apa yang dikatakan oleh buya.logos dapat diartikan sebagai usaha. Jika kita ingin berfilsafat maka kita harus menyambungkan keduanya, sehingga kita seharusnya mecoba untuk memahami tentang apa yang kita lakukan.

Refleksi Elegi Pemberontakan Para Sombong


Sombong idnentik dengan perilaku negatif, bahkan biasanya masyarakat selalu memandang sombong dengan perilaku negatif. Padahal sombong dapat diaplikasikan kedalam perilaku positif. Sombong sendiri sebenarnya dapat kita gunakan untuk kebaikan. jadi semua yang kita lakukan, baik itu sombong atau apapun tergantung dari bagaimana kita dalam memandngnya dan memanfaatkannya.





Refleksi Hermeneutika Hidup_oleh Marsigit



Dari gambar tersebut terlihat bahwa, hidup dapat diperumpamakan seperti sebuah garis. artinya hidup tidak kan pernah terulang. seperti halnya sebuah sejarah yang tidak akan pernah berulang, meskipun dapat berulang tapi tidak akan pernah berulang dalam waktu yang sama. Hidup juga seperti lingkaran yang akan terus berputar seperti pagi yang nantinya akan bertemu dengan pagi hari kembali. sesuatu yang pernah berada di atas nantinya juga akan kembali kebawah, seperti guru yang akhirnya kembali ke bawah untuk menjemput para anak didiknya. Sebaaik-baiknya hidupadalah yang memiliki nilai ibadah didalamnya, diharapkan dengan adanya hermenitika inikita dapat mengambil manfaat darinya.

Selasa, 23 April 2013



Mathematics and Language 8

Dalam memberikan materi matematika, seharusnya kita tidak boleh memaksakan sesuai apa yang kita fikirkan, apa kehendak kita. Dalam berkomunikasi matematika ada 2 jalan yaitu komunikasi matematika horizontal dan vertikal. Komunikasi matematika vertikal digunakan untuk matematika murni, atau matematika pelajar dewasa. Sebaiknya bahasa yang digunakan untuk matematika anak muda, tetap menggunakan matmatika dunia anak muda. Sehingga matematikawan muda dapat dengan mudah untuk memahami.



Refleksi Forum Tanya Jawab 64 : Burung di Pagi Hari, Jengkerik di Sore Hari

Jika di ibaratkan kedalam waktu, maka dunia pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu dunia pagi atau inovatif dan dunia sore atau tradisional. Persoalan yang dihadapi oleh dunia sore dan dunia pagi sangat berbeda. Masing-masing dunia mempunyai masalahnya sendiri-sendiri.
Dalam dunia petang atau pendidikan tradisional kita seringkali meragukan kemampuan siswa. Dalam hal ini tingkat keaktifan siswa sangat rendah, siswa hanya menjadi objek bagi guru. Jika seperti ini terus menerus maka intuisi siswa tidak berkembang dan siswa akan terpaku pada apa yang disampaikan oleh gurunya. Para gurupun kurang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplor kemampuan mereka. Sehingga secara tidak langsung siswa akan terpaku pada guru, sedangkan guru terpaku pada kurikulum yang harus diberikan pada siswa. Proses pembelajaranpun akan seperti sebuah penjara begi para siswa. Siswa tidak merasa bahwa pembelajaran itu menyenangkan melainkan pembelajaran itu sebagai sebuah momok yang menakutkan.
Sedangkan di dunia pendidikan pagi para siswa seharusnya diberikan keleluasaan untuk mengeksplor apa yang ada di dalam dirinya. Pengetahuan mereka dibebaskan untuk berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing siswa tanpa siswa merasa terbebani dengan pembelajaran. Adanya dunia pagi, memberikan keleluasan bagi para siswa. Ini dikarenakan para guru lebih terfokuskan pada pelayanan yang maksimal pada siswa. Sehingga tidak mengherankan jika sebenarnya dan sudah kodratnya para siswa dapat menentukan kurikulumnya sendiri.
Dalam proses menjadi pembelajaran yang inovatif memang tidak mudah perlu pembiassaan-pembiasaan. Walaupun di Indonesia belum begitu teraplikasi dengan baik pembelajaran inovatifnya semoga beberapa tahun kedepan pembelajaran inovatif dapat dilaksanalkan di Indonesia dengan baik. Sehingga dalam proses pembelajaran tidak terlihat lagi wajah muram di raut muka anak-anak.